Melirik Konservasi Anggrek Vanda tricolor di Merapi

Keberadaan Vanda tricolor di Lereng Selatan Merapi
Lereng Selatan Gunung Merapi yang terletak di Kabupaten Sleman Jogjakarta masih menyimpan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Vegetasi yang menutupi wilayah ini meliputi padang rumput, semak belukar dan vegetasi pohon besar. Struktur vegetasi demikian merupakan habitat yang cocok bagi kehidupan anggrek, baik itu anggrek tanah maupun anggrek epifit. Eksplorasi dan identifikasi yang dilakukan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Yogyakarta menemukan sekitar 53 jenis anggrek alam. Sebagian besar anggrek tersebut adalah epifit (menempel pada batang pohon). Salah satu anggrek khas daerah ini yang hampir punah keberadaannya di lereng Selatan Merapi adalah Vanda tricolor.

anggrek
Gambar diatas diambil dari http://www3.unifi.it/

Anggrek berbunga putih dengan bercak totol ungu kemerahan ini dulunya sangat banyak dan tumbuh liar di pohon dadap, angsana dan pohon-pohon tahunan lainnya. Akan tetapi, bencana semburan awan panas pada tahun 1994 telah menghanguskan 80 % habitat asli anggrek ini. Belum lagi kebakaran besar di hutan lindung dan Cagar Alam Plawangan Turgo pada tanggal 16-20 Oktober 2002, ditambah ancaman awan panas pada tahun 2006 yang semakin mengancam keberadaan anggrek species merapi di alam. Disamping faktor alam, faktor sosialpun sangat berpengaruh besar terhadap populasi anggrek ini. Masyarakat sekitar banyak yang mengkoleksi kemudian menjualnya kepada nursery-nurseri atau para pemesan dari luar kota. Akibat dari semua itu, saat ini hamper tidak mungkin lagi menjumpai anggrek tersebut di habitat aslinya.

Wujud upaya pelestarian yang telah dilakukan BKSDA untuk meningkatkan populasi vanda tricolor adalah melaksanakan usaha penangkaran yang berbasiskan kemasyarakatan dengan membentuk 5 kelompok tani konservasi dari 3 Kecamatan di Lereng Selatan Gunung Merapi. Upaya budidaya yang dilakukan kelima kelompok tani tersebut dinilai masih kurang optimal. Ketidaktepatan teknik budidaya yang dilakukan menyebabkan lambatnya pertumbuhan dan perkembangbiakan Vanda tricolor.

Dengan hasil budidaya yang masih minim, pada tahun 2002, BKSDA membeli 80 batang dari kelima kelompok tani konservasi tersebut kemudian merelokasikannya ke blok Tlogo Muncar, Kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Plawangan Turgo. Akan tetapi setahun kemudian, dari observasi penulis yang dilakukan pada tahun 2004, dari 80 batang hanya 36 batang yang tersisa, 15 batang diantaranya dalam kondisi kritis. Masalah yang saat ini dihadapi adalah bagaimana memperbaiki teknik budidaya maupun teknik relokasi dengan pendekatan agronomis yang meliputi pengelolaan terhadap lingkungan tumbuh serta pengelolaan terhadap tanaman itu sendiri sehingga menciptakan interaksi positif yang mendukung pertumbuhan dan perkembangbiakan Vanda tricolor serta meningkatkan kemampuan hidupnya di habitat relokasi.

Konservasi Vanda tricolor
Konservasi adalah upaya pelestarian keanekaragaman hayati maupun non hayati dengan pertimbangan aspek ekologi serta ekonomi. Beberapa prinsip konservasi yaitu perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan yang lestari. Salah satu upaya tersebut adalah penangkaran atau budidaya. Adapun pengertian penangkaran/budidaya rumbuhan dan satwa liar antara lain:

  • Penangkaran/budidaya tumbuhan dan satwa liar adalah kegiatan yang berhubungan dengan pembesaran dan pengembangbiakan, tumbuhan dan satwa liar dengan tetap mempertahankan galur murninya (keaslian jenis).
  • Usaha penangkaran/budidaya adalah meliputi kegiatan:
    • Persiapan teknik penangkaran/budidaya dan administrasi perijinan
    • Pelaksanaan proses pengembangbiakan tumbuhan dan satwa liar
    • Pengolahan dan pemanfaatan hasil penangkaran/budidaya
    • Usaha penangkaran/budidaya komersil adalah usaha pembudidayaan dengan tujuan memperdagangkan hasil budidaya dengan kewajiban mengembalikan kea lam (restocking).
    • Usaha penagkaran/budidaya non komersil adalah usaha pembudidayaan untuk keperluan memenuhi hobi, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan rekreasi.

Dengan adanya upaya konservasi melalui penangkaran/budidaya tumbuhan dan satwa liar maka kelestarian keanekaragaman hayati akan lebih terjamin. Pola ini telah diadopsi oleh BKSDA Yogyakarta untuk melestarikan populasi anggrek khas Gunung Merapi, Vanda tricolor, melalui pembentukan unit pelaksana budidaya yang disebut kelompom tani konservasi. Kelompok tani konservasi ini diberi modal awal oleh BKSDA untuk membeli perlengkapan budidaya dan diberi 50 batang anggrek Vanda tricolor sebagai indukan yang tidak boleh dijual. Hasil budidaya dari indukan inilah yang nantinya dibeli oleh BKSDA untuk kepentingan relokasi di habitat barunya.

Permasalahan dan Hambatan Konservasi Vanda tricolor
Budidaya yang dilakukan oleh 5 kelompok tani konservasi selama 3,5 tahun kurang menunjukkan perkembangan yang memuaskan. Dari sekitar 50 batang Vanda tricolor induk, rata-rata berkembang menjadi 80 batang, itupun sudah termasuk indukan. Para petani juga mengeluhkan lambatnya pertumbuhan anggrek ini, terutama saat pembibitan. Bibit anggrek hanya mencapai tinggi 3 cm dalam waktu 2 tahun. Beberapa kendala yang ditemui penulis saat di lapangan antara lain:

  • Hampir semua petani konservasi belum mengetahui cara penyerbukan buatan
  • Pembibitan masih menggantungkan proses alami
  • Penyiraman tidak teratur, bahkan sering pula dilakukan pada siang hari yang terik
  • Pemupukan hanya menggunakan pupuk kandang, bahkan sebagian besar tidak pernah dipupuk sama sekali
  • Banyak calon bunga diserang oleh kutu penghisaap (aphids) sehingga rusak dan kering
  • Intensitas cahaya melalui paranet terlalu rendah, sehingga jarang berbunga dan pembentukan daun baru yang lambat
  • Sebagian lainnya, meletakkan anggrek di tempat terbuka yang terpapar sinar matahari penuh sehingga banyak daun yang terbakar
  • Media tanam bibit menggunakan pakis yang dihaluskan, namun strukturnya terlalu padat untuk perkembangan akar.

Melihat dari permasalahan budidaya tersebut, tampak para petani masih belum memperhatikan aspek agronomi secara optimal, sehingga pengelolaan lingkungan dan pengelolaan tanaman manjadi kurang tepat. Akibat selanjutnya pertumbuhan dan perkembangbiakan anggrek menjadi lambat.

Disamping permasalahan budidaya, terdapat pula beberapa masalah pada teknik relokasinya. Relokasi yang dilakukan pada bulan Agustus 2002 di blok Tlogo Muncar kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Plawangan Turgo telah memperlihatkan bahwa pada bulan Juli 2004, dari 80 batang Vanda tricolor yang ditempelkan, hanya tersisa 36 batang, 15 diantaranya dalam kondisi kering, akar tidak berkembang, daun layu, pucat, dan daun barunya makin sempit dan kecil. Vanda tricolor hanya ditempel dengan bantuan tali sabut tanpa diberi media apapun. Anggrek yang mengalami kekeringan, sebagian besar di kawasan Taman Wisata Alam.

Perbaikan Teknik Budidaya
Teknik yang diusulkan merupakan alternative untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangbiakan Vanda tricolor. Teknik budidaya tersebut dirancang menggunakan teknologi aplikatif yang memanfaatkan bahan-bahan yang murah dan mudah diperoleh, sehingga memudahkan penerapannya oleh petani konservasi.
Berikut langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk memperbaiki budidaya Vanda tricolor:

Pembibitan
Vanda tricolor dapat diperbanyak secara vegetatif dengan anakan/split dan secara generatif dengan biji. Untuk bibit dari anakan/split perlu dilakukan perendaman pangkal batang dan akar pada larutan 200 cc air kelapa yang dicampur 1 liter air selama 12 jam. Air kelapa mengandung senyawa aktif auksin dan sitokinin yang aktif untuk merangsang pembelahan dan pemanjangan sel-sel organ anggrek. Untuk memperoleh bibit dari biji, perlu dilakukan penaburan biji dari buah yang telah masak namun belum merekah, ditandai dengan warna kulit buah yang kuning kecoklatan. Setelah buah dibelah, bijinya ditaburkan pada media moss, yaitu sejenis lumut yang banyak tumbuh di bawah pohon pinus di Merapi. Media ini dapat menjaga kelembaban, kaya akan bahan organic dan baik untuk pertumbuhan akar baru. Media moss tidak akan merusak permukaan epidermis meristem akar saat dilakukan pemindahan bibit, karena strukturnya lunak.

Media Tanam
Dari observasi dan evaluasi data yang dilakukan penulis. Media tanam yang paling baik digunakan adalah perpaduan dari pakis, pecahan bata merah dan pupuk kandang. Untuk pakis, dipilih yang berbentuk pot silinder, yaitu berbentuk tabung dengan lubang ditengah. Lubang ini nati diberi pecahan bata dibagian dasar, kemudian diisi pupuk kandang. Setelah media tanam siap, segera Vanda tricolor yang cukup dewasa ditanam dengan memasukkan sebagian batang dan akar kedalam lubang pakis. Media tanam bentuk ini akan lebih mendukung pertumbuhan anggrek Vanda tricolor karena mampu mempertahankan kelembaban lebih lama serta merangsang pembentukan akar tanah yang dapat mensuplai unsur hara dan air bagi tanaman.

Lokasi
Mengganti paranet 75 % dengan paranet 25 %. Paranet 25 % akan meloloskan intensitas cahaya yang lebih besar, sehingga dapat meningkatkan proses fotosintesa dan merangsang pembentukan bunga. Bagi sebagian anggrek yang berada di tempat terbuka dengan intensitas cahaya penuh, juga harus dipindah ke tempat yang ternaungi atau dengan paranet 25 %. Intensitas cahaya yang terlalu besar dapat merusak jaringan daun dan mempercepat hilangnya kelembaban pada media tanam.

Penyiraman
Penyiraman yang lebih terkontrol dengan mengacu pada kondisi media tumbuh. Saat media tumbuh tampak kering segera mungkin dilakukan penyiraman yang dilakukan pada pagi hari pukul 6-8 pagi atau pada sore hari pukul 4-5 sore dimana evapotranspirasi pada tingkat yang rendah.

Pemupukan
Pemupukan daun dengan menggunakan urine sapi yang telah difermentasi selama ≥ 1 bulan. Urine sapi mengandung unsur N, P, K yang cukup tinggi dan mengandung Ca yang dapat meningkatkan ketahanan terhadap serangan penyakit.

ZPT
Penyemprotan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) alami yang dapat dibuat dari ekstrak biji jagung muda. Caranya 20 gram biji jagung muda fase susu ditumbuk dan dicampur dengan 1 liter air, kemudian disaring. Air saringan inilah yang digunakan untuk menyemprot daun bibit Vanda tricolor.

Pengendalian hama
Pengendalian hama dilakukan dengan menyemprotkan pestisida hayati yang dibuat dari bahan-bahan alami yang beraroma tajam seperti daun sereh, bawang putih, cabe, dll. Salah satu bahan tadi ditumbuk dan direndam dalam air lalu disaring. Air saringan inilah yang digunakan untuk menyemprot hama pada anggrek budidaya. Aroma tajam inilah yang akan mengganggu sistem trachea serangga, sehingga dapat megusir serangga atau dapat membunuhnya bila terkena pada dosis tertentu.

Perbaikan Teknik Relokasi
Proses relokasi anggrek kealam merupakan poin serius yang harus dicermati pada setiap komponen faktor yang mendukung proses adaptasinya di alam bebas. Pemindahan anggrek dari lingkungan yang terkendali (lingkungan budidaya) menuju ke lingkungan yang tidak terkendali (lingkungan alam bebas) akan menimbulkan side effect berupa stressing internal dalam fisiologis tanaman anggrek. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengatur faktor-faktor internal dan eksternal dari tanaman anggrek agar dapat mendukung proses kehidupan anggrek dalam jangka waktu yang lama.

Perlakuan saat sebelum maupun pada saat relokasi sangat penting untuk meningkatkan daya tumbuh dan kemampuan bertahan hidup Vanda tricolor di alam bebas.

  • Memilih tanaman anggrek yang kondisinya sehat, pertumbuhan daun optimal, bebas penyakit, pertumbuhan akar normal, umur dewasa dan dalam jumlah rumpun minimal (suplai cadangan makanan), varietas unggul (bunga cerah, persentase penyerbukan tinggi, adaptasi luas).
  • Memilih kawasan makro yang jauh dari daerah rawan bencana (awan panas, aliran lahar, kebakaran hutan, dan longsor) serta jauh dari kawasan habitat hewan-hewan liar pemanjat seperti kera ekor panjang.
  • Memilih kawasan makro yang jauh dari kawasan endemic penyakit serta hama tanaman anggrek. Minimal pada kawasan yang catatan intensitas serangan hama penyakitnya paling rendah.
  • Memilih lokasi relokasi di kawasan yang kondisi iklim mikronya mendukung pertumbuhan anggrek. Misalnya disekitar air terjun Tlogo Muncar hingga radius 140 meter. Pada daerah inilah ditemukan banyak anggrek Vanda tricolor tampak lebih subur dengan pertumbuhan akar yang baik serta pembentukan daun baru yang sehat dan normal. Daerah ini memiliki kelembaban udara yang tinggi dan lebih stabil daripada kawasan Wisata Alam. Kelembaban ini berasal dari embun dan kabut yang disebabkan oleh benturan air terjun pada batuan-batuan dasar dibawah air terjun. Kelembaban inilah yang akan diserap aleh akar gantung yang dimiliki Vanda tricolor.
  • Meletakkan anggrek Vanda tricolor pada jenis-jenis pohon tahunan yang memiliki pola kulit batang pecah-pecah (retakan kulit batang). Batang yang memiliki retakan-retakan kulit batang akan mendukung akar Vanda tricolor untuk melekat dan menahan embun air. Pada umumnya, pohon dengan retakan kulit batang akan ditumbuhi lumut dan paku-pakuan yang lebih lebat. Akan lebih baik lagi apabila batang anggrek Vanda tricolor diletakkan persis menempel pada rumpun lumut dan paku-pakuan tersebut, karena rumpun ini dapat mempertahankan kelembaban tinggi yang lebih lama bagi akar Vanda.
  • Memilih blok kawasan air terjun Tlogo Muncar yang jauh dari jalan setapak dan cukup sulit dilewati (rimbun oleh semak). Hal ini supaya meminimkan perhatian dari para pengunjung yang berniat untuk memanjat dan mengambil anggrek Vanda yang telah direlokasi.
  • Sebelum ditempel di batang pohon, sebaiknya batang anggrek Vanda dibungkus dengan moss yang banyak terdapat di kawasan Tlogo Muncar. Kemudian moss tersebut diikat renggang dengan tali sabut. Setelah itu gumpalan moss direndam sebentar pada larutan Vit B dan hormone untuk meminimalkan side effect dari perubahan lingkungan yang drastis. Selain itu perlakuan ini untuk memberi unsur perangsang pertumbuhan akar serta bekal kelembaban awal saat direlokasi.
  • Melakukan observasi dan evaluasi rutin (7 hsr, 15 hsr, 30 hsr, 60 hsr, 180 hsr, dan dilanjutkan setiap setahun sekali) terhadap tiap-tiap anggrek yang direlokasi sebagai langkah pemantauan perkembangan anggrek dan juga sebagai upaya penanganan dini terhadap anggrek-anggrek yang mengalami kerusakan/gangguan pertumbuhan.

Demikian sekilas mengenai upaya konservasi yang dilakukan BKSDA Yogyakarta dan alternatif perbaikan konservasi yang dapat dijadikan evaluasi untuk tahap relokasi selanjutnya. Permasalahan konservasi tentunya tidak hanya terbatas pada lingkup budidaya saja. Akan tetapi terlalu luas apabila dijabarkan pada satu tema saja. Tulisan ini hanya membatasi pada tinjauan secara agronomi saja. Oleh karena itu, semoga pada kesempatan selanjutnya dapat dikemukakan tema-tema konservasi lainnya sebagai wacana dan evaluasi ke depan menuju memperbaiki konservasi anggrek Indonesia agar lebih baik. Sangatlah diharapkan para pembaca dapat mengambil beberapa poin penting dari tulisan ini sebagai inspirasi untuk meningkatkan kualitas budidaya anggrek atau sekedar sebagai wacana ilmiah.

*wuih heboh bener ngeditnya…2 jam baru bisa serapi ini -_-!!
Salam Panda Tali Kolor…..eh Vanda tricolor (^o^)!!! Jan lucu tenan…makasih buat pencipta istilah ini, mbok dipatenkan aja..he he he.

By. Destario Metusala 2006
Jur. Agronomi, Fak. Pertanian
UPN “Veteran” Jogjakarta

Sumber Pustaka

  • Gardner, F, dkk. 1991. Fisiologi Tanaman. UI-Press. Jakarta
  • John, dkk. 1993. Pengelolaan Kawasan Yang Dilindungi di Daerah Tropika (Edisi Terjemahan). Universitas Gajah Mada University Press. Yogyakarta
  • Metusala, D. 2004. Botani Anggrek dalam Ilmu Agronomi (Makalah Ilmiah-tidak dipublikasikan). Yogyakarta
  • Metusala, D. 2004. Perbaikan Konservasi Anggrek Vanda Tricolor di Lereng Selatan Gunung Merapi dengan Pendekatan Agronomi (Makalah Ilmiah-tidak dipublikasikan). Yogyakarta

41 thoughts on “Melirik Konservasi Anggrek Vanda tricolor di Merapi”

Tinggalkan Balasan