8 thoughts on “Dendrobium sagittatum J.J.Sm”

  1. Mas Rio,

    Saya punya beberapa koleksi anggrek species cuman terus terang saya nggak tahu namanya dan keinginan saya mau kasih label namanya sekalian biar ingat.

    Saya mau attach fotonya ke web ini atau harus ke email mengingat saat ini email lagi down karena efect terputusnya fiber optik di backbone Taiwan akibat gempa dua hari lalu.

    Oh ya, email saya di ekowis@yahoo.com

    Thank you
    wahyu

  2. Mas Rio, dendro ini kayaknya nggak pernah mau mekar tapi pembuahannya selalu terjadi dan jadi buah, apa betul?
    Terus bedanya dengan Dendrobium quadriferum? (Maaf tulisannya nggak baku/salah).
    Saya pernah lihat di Baturaden (Banyumas), anggreknya kecil. Tapi pas di Kalimantan, tumbuhannya lebih gede.

  3. Yup betul mbak….bunganya tidak pernah merekah penuh dan sangat mudah terjadi selfing (pembuahan sendiri)…hebat ya. Bentuk tanaman seperti ini sangat banyak di Indonesia, tapi bunganya berlainan sekali atau ada juga yg mirip-mirip.

  4. Mas Rio ini bisa aja. Mas, kula menika jaler,sanes setri. Salam kenal nggih Mas. Kula menika pecinta anggrek anyaran. Ini dendro juga punya teman, diantaranya Habenaria cleistogama dan yang lainnya kula kesupen. Di Kaliurang kayaknya juga banyak. Biasanya kalau di Kaliurang ini dendro nempel di batang Altingia excelsa dan Schima walichii. Kalo’ di Kalimantan banyak nempel di batang Shorea leprosua.
    Mas Rio alamat e-mailnya mbok kula dipun paringi. Matur suwun.

  5. Sik, species yang diatas tak ralat dulu. Temennya si dendro ini; Oberonia cleistogama dan Eria cleistogama. Bukannya Habenaria cleistogama. Dan seharusnya Shorea leprosula bukan Shorea leprosua.
    Mas Rio, apa betul ya Mas, kalo’ si dendro ini lebih menyukai daerah upland yang berhawa sejuk dan dengan curah hujan yang sedang-tinggi? Soalnya saya menjumpainya di daerah Pacekelan(Wonosobo), Gebang (Purworejo), Kedu Selatan, Gunung Slamet Barat, Banyumas Timur (Purwokerto), Kaliurang (Yogya), Bogor. Dan di Kalimantan Timur (daerah hutan, entah di Penajam atau Pasir (soale kula kesupen) juga di dataran menengah-tinggi. Lha di hutan daerah lowland, seperti Notog (Cilacap), Randublatung (Blora), Ngawi, Pacitan dan Wanawisata Tritih, saya belum pernah menjumpainya. Dan yang di Kaltim itu sosoknya lebih besar dan panjang, dengan pangkal daun berwarna agak coklat kemerahan.
    Eh sekalian tanya ya Mas, saya pernah menjumpai anggrek botani yang cantik, di Wanagama, GK. Sekilas gambarannya;terestrial, berkoloni, tiap koloni tdr dr bbrp indvd, habitus; tumbuhan kecil, tidak berdaun (tereduksi menjadi semacam sisik), batang fleshy, warna merah jambu bening, tiap batang menumpu satu bunga ( jadi mirip Monotropha uniflora, tp yg ini bukan anggrek), bentuk bunga mirip Pleione sp.,sepal dan petal lancip, warna putih-merah jambu, tipis, labelum lebih tebal, warna merah keunguan. (maaf banget, tidak ada ukurannya). Saya lihat pada ngumpul dibawah tegakan Acacia auriculaiformis. Mungkin agak sulit dijumpai, sebab anggrek ini kayaknya munculnya cuma diawal2 msm hjn. Kira2 namanya apa ya Mas Rio? Seandainya blm bernama, boleh dong nama Mas Rio dijadikan nama genusnya. Misalnya; Destariella atau Destariopsis, atau Destarium atau Destariorhyza (Wadouuuh ngawurnya saya ini, maaf ya Mas) pasti kita bangga. Hidup Mas Rio!!!!!!!!Khan ada juga anggrek yang genusnya nyomot dari bahasa kita “ANGGREK”, untuk menamai anggrek dari Madagaskar, ANGRAECUM SESQUIPEDALE’.
    Maaf ya Mas untuk terusannya V. tricolor lain kali nggih? Kula sampun sayah. Lagian saya untuk nulis bahasa latinnya di”sini” kesulitan, jadi nggak baku deh.

  6. Mas saya Pingin Tau anggrek yang Ada di lereng Gunung Slamet Apa Aja sih,trus NAma LAtin sama Lokalnya

Tinggalkan Balasan