Pelestarian anggrek yang dimulai dari hal-hal kecil

Anggrek, namanya begitu pendek dan sederhana….hanya terdiri dari 7 huruf saja. Tapi kisahnya tak sependek namanya, dan permasalahan pelestariannya tidak sesederhana namanya. Masyarakat Indonesia boleh bangga dengan begitu kayanya negeri ini dengan beribu-ribu plasma nutfah anggrek hingga negeri ini dijuluki sebagai negara dengan jenis anggrek spesies terbanyak didunia. Namun bangsa ini tidak cukup hanya dengan bangga mendengar julukan megah tersebut. Kekayaan yang melimpah ini perlu “dijaga” dan “dipelihara”. Dijaga dalam artian dilestarikan dan dipelihara dalam artian dimanfaatkan. Tidak perlu disangsikan lagi, rasa cinta dan bangga bangsa ini terhadap kekayaan anggrek spesies Indonesia sangatlah besar. Terbukti dengan tingginya minat memelihara anggrek spesies, larisnya komoditas anggrek spesies di setiap stand pameran anggrek, hingga kesanggupan mengeluarkan biaya besar untuk sekedar membawa anggrek dari daerah lain. Sehingga pada dasarnya, sikap cinta dan bangga bangsa ini terhadap anggrek tidak perlu diragukan.

Berikut beberapa tips menarik untuk menyatakan cinta kita kepada si anggrek.

  1. Teliti sebelum membeli. Seperti halnya membeli barang-barang pada umumnya, carilah keterangan sebanyak dan selengkap mungkin mengenai jenis anggrek yang akan dibeli, misal rentang ketinggian habitat, suhu, ukuran tanaman optimum, kebutuhan cahaya dll. Sehingga kita bisa mempertimbangkan dengan baik apakah si anggrek tersebut cocok dengan tempat barunya atau tidak. Terkadang, ada pula pedagang yang merekayasa informasi hanya agar anggreknya laku, misal dengan mengatakan bahwa si anggrek dapat tumbuh bagus dan berbunga di segala tempat, padahal anggrek tersebut tidak tahan terhadap suhu rendah.
  2. Memilih tanaman anggrek yang sudah melewati masa budidaya dan adaptasi. Atau dengan kata lain, lebih baik menghindari anggrek cabutan langsung dari alam yang notabene akarnya rusak, belum beradaptasi, dan masih dalam kondisi stress. Anggrek cabutan yang sudah mengalami masa budidaya dan adaptasi umumnya sudah mengeluarkan akar baru di media tanamnya, telah mengeluarkan daun barunya yang tumbuh segar dengan ukuran normal. Anggrek ini akan memiliki tingkat daya hidup yang lebih baik dibanding cabutan langsung alam. Sisi positif lainnya yaitu akan membiasakan para pemburu atau penadah untuk turut melakukan upaya budidaya.
  3. Menyeimbangkan kapasitas tempat budidaya dan jangkauan kemampuan memelihara dengan jumlah dan jenis anggrek. Semakin banyak jenis dan jumlah anggrek yang dimiliki tentu akan menuntut tempat yang semakin luas dan juga waktu pemeliharaan yang lebih intensif pula. Berapa banyak waktu dalam sehari yang bisa disisihkan untuk memelihara tanaman?, berapa luas space di kebun atau pekarangan rumah yang masih bisa di tempati anggrek secara optimal?? Pertanyaan tadi ada baiknya dijawab sebelum menambah koleksi. Jangan sampai ada beberapa anggrek yang dianak-tirikan karena kurang perhatian/treatment…atau jangan sampai kolong tempat tidur anda gunakan untuk meletakkan anggrek yang butuh full sinar.
  4. Mencoba yang mudah untuk belajar yang sulit. Yang dimaksud adalah, mencoba membudidayakan anggrek-anggrek yang terkenal mudah dipelihara, mudah berkembangbiak, dan pertumbuhannya cepat. Tidak perlu malu dengan ungkapan “hanya memelihara anggrek yang biasa atau anggrek yang murah”. Bukankah untuk sampai ke kelas 6, kita harus melewati kelas 1,2,3….dst??!, dari pelajaran dan pengalaman di kelas 1 kita bisa menghadapi pelajaran di kelas 2 dan begitu seterusnya. Hal ini berkaitan dengan pemeliharaan suatu anggrek. Biasanya semakin langka anggrek, kemungkinan karena range adaptasinya yang sempit, pertumbuhannya sangat lambat, membutuhkan iklim mikro yang spesifik, sulit membentuk tunas anakan, sehingga dari sisi agronomisnya pun akan membutuhkan treatment khusus. Tentunya kita tidak mau kebun kita menyandang gelar “pemakaman masal” untuk anggrek-anggrek langka bukan??!.
  5. Sharing dan berkomunikasi dengan komunitas anggrek. Dengan begitu anda akan bisa menanyakan pengalaman-pengalaman dalam memelihara anggrek serta memperoleh banyak informasi mengenai cara budidaya yang tepat.
  6. Budidaya dan mengembangbiakan anggrek merupakan salah satu langkah konservasi/pelestarian. Hanya dengan memelihara dengan baik hingga suatu saat bisa berkembangbiak dari yang semula satu pot menjadi beberapa rumpun pot, kita sudah melakukan apa yang dinamakan “konservasi”. Bahkan dengan menjual hasil perbanyakan anggrek kepada tetangga sebelah (misal dari 1 pot menjadi 4 pot, 2 pot dijual sedangkan 2 pot lainnya dikembangkan lagi) juga memberi nilai yang sangat penting bagi konservasi anggrek. tidak sulit bukan?!
  7. Anggrek hasil botolan (kultur biji atau jaringan)??? why not?!. Point yang terakhir ini untuk turut mendorong aktifitas perbanyakan anggrek secara in-vitro, yaitu dengan mengurangi “skeptisitas” atau “alergi” terhadap anggrek produk kultur in-vitro…toh banyak juga jenis-jenis spesies yang dibotolkan. Bahkan performa tanaman menjadi lebih kompak, seragam, pertumbuhan yang kuat, serta kemampuan adaptasi yang lebih baik. Untuk masalah genetik, tidak perlu disangsikan, selama proses fertilisasi (pembuahan) dan penumbuhan in-vitro sesuai aturan…maka variasi genetik hasil botolan tidak berbeda dengan variasi genetik anggrek dari alam.

Nah, sekarang mulailah dari hal-hal yang kecil untuk memperoleh hasil yang besar.

36 thoughts on “Pelestarian anggrek yang dimulai dari hal-hal kecil”

  1. fiuh! akhirnya jadi juga…setelah sekian lama tidak bikin artikel. Sebenernya ada sedikit unek-unek mengenai artikel sisi lain perburuan anggrek. Pengennya sih “meliput” langsung di TKP gitu..sambil wawancara ke narasumber. Sebisa mungkin obyektif dengan melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang, sehingga setidaknya bisa menelurkan kesepahaman yg tidak timpang sebelah. Tidak selalu yang idealis adalah yang paling efektif. Bikin smacam tayangan discovery channel ttg anggrek di alam kayaknya seru juga ya.

  2. Akhirnya Mas Rio nulis artikel lagi. Kemana sich ………. Dank U Well y Viellen Dank y Muchas Gracias ………..
    Duh senengnya………… (Maaf tidak pakai bahasa halus soalnya ada yang sewot di sebelah).

  3. Mas Dean, memang ada yg sewot di sebelah ya..??Sebelah mana? He..he..he..
    Danke, arigato gozaimasu, xie xie ni, merci, thank you, ayo mau tambah apa lagi biar bahasanya semakin universal…ha..ha..ha..
    Mas Rio terima kasih atas artikel yg bermanfaat, memangnya TKP-nya seperti apa nanti?

  4. Mas Dean, memang ada yg sewot di sebelah ya..??Sebelah mana? He..he..he..
    Danke, arigato gozaimasu, xie xie ni, merci, thank you, ayo mau tambah apa lagi biar bahasanya semakin universal…ha..ha..ha..
    Mas Rio terima kasih atas artikel yg bermanfaat, memangnya TKP-nya seperti apa nanti?

  5. Halo mas Rio, senang baca artikelnya karena menambah wawasan bagi saya sekaligus mengingatkan jangan cuman berburu anggrek saja tetapi juga harus mempertimbangkan antara lain kapasitas daya tampung dan kemampuan memeliharanya…syukur massa hantam kromo berburu anggrek udah lewat rasanya…hehe, sekarang jadi lebih selektif kalo mau cari anggrek. Sekarang saya juga mulai mencoba pelihara dari botolan…yang jadi pertanyaan saya bagaimana memilih botolan yang dalam istilah mas Rio …. proses fertilisasi (pembuahan) dan penumbuhan in-vitro sesuai aturan…Saya membayangkan kalo kita mau beli benih/bibit yang baik adalah yang bersertifikat dan biasanya dari balai benih, nah kalo anggrek botolan sebenarnya ada tidak yang “bersertifikat” sebagaimana kalo kita beli benih/bibit tanaman.Saya sering menjumpai dalam pameran botolan anggrek yang dijual hanya mencantumkan nama speciesnya dan indukannya saja. Terima kasih mas

  6. makasih.. bagus bener isi paparannya, hebat biarpun org muda saya bangga mas Rio sudah berpikiran yang serius… sayang ya jaman saya muda fasilitas komunikasi seperti ini belum ada… maju terus mas.., agar semua orang yang cinta anggrek bisa berpikiran serius.. dan bertanggung jawab terhadap kekayaan alamnya negara kita..

  7. Jazakallahu katsiran………..wadouh Mas Dedi bisa saja. Salam kenal ya Mas. Tapi saya setuju koq kalo’ anggrek alam pada di”BURU”. Tapi konteksnya yang beda lho. Diburu, bawa pulang , dipiara, dipropagasi, aklimatisasi dan sebagian direlokasi dan sebagian buat koleksi (jangan lupa bagi-bagi).
    Soalnya dengan deforestasi yang membabi buta sekarang ini, saya kasihan entar anggrek-anggrek itu pada tidak punya rumah. Beruntung bagi anggrek species yang mudah beradaptasi dan dapat hidup dan tumbuh pada kisaran suhu dan ketinggian yang luas . Kadang kita tidak tahu, diversitas anggrek kita juga mencakup anggrek2 botani dan bahkan endemik. Kadang untuk jenis-jenis anggrek endemik tertentu, kalo’ diambil dari habitatnya tidak akan hidup apalagi tumbuh di habitat barunya, walau iklim mikronya sudah dimiripkan. Karena dia tumbuh berasosiasi dengan pohon yang ditumpanginya.Semisal ditempelkan pada tegakan yang lain atau ditanam pada media tanam umum untuk anggrek, dia akan ngambek. Bahkan dulu pas saya di Kalimantan Timur, tidak mau ngambil di hutan-hutannya. Takut itu anggrek (walaupun botanis) endemik. Dan dihutan Kalimantan pada umumnya, setiap nichenya bila dilihat diversitas anggreknya…..wuuuuihhhh banyak. (Walaupun saya kepingin ngambil, tapi saya tahan. Apalagi pas waktu itu Bulbophyllum lobii sedang musim bunga). Mungkin Mas Rio kalo’ lihat penebangan pohon-pohon di hutan (examp. Kalimantan) hujan tropis humida pasti sedih. Begitu brakkkkkkkkk….. kanopi terbuka, diambil lognya, ………….(nggak mau terus ah, sedih soalnya).
    Kita ambil lagi contohnya, misal Dend. capra yang dulu banyak tumbuh di Teak Forest di Jatim (milik Perhutani) dan hutan lowland di Gk, DIY.Di Jatim (Ngawi, Randublatung (Blora) dan Pacitan, sekarang sudah jarang dijumpai lagi. Biasanya ini anggrek tumbuh di pohon-pohon jati yang berumur puluhan tahun. Trus tahun 1998 mulainya negara kita gonjang-ganjing, dimana social determinant mulai santer, banyak jati milik Perhutani yang pada dijarah dan Perhutani sendiri juga nggak mau Memanen jatinya lama-lama. Akhirnya…….???????/..
    Terakhir saya lihat ini anggrek tumbuh di seed stands area , bareng Cymbidium, Aerides dan Rhyncostylis. Soalnya tegakan ini nggak diteres dan ditebang untuk diambil bijinya sebagai benih. Tapi kalo’ tegakannya sudah tua dan viabilitas dari benih yang dihasilkannya sudah menurun mungkin juga akan ditebang. (Saat itu diameter batang tegakan ini besar, perlu enam rentangan tangan orang dewasa).
    Tapi kalo di Pacitan si anggrek ini tumbuh di hutan jati milik rakyat. Bahkan tumbuhannya tidak hanya pendek, tapi bisa mencapai 40 cm. Dulu pas belum pada diembat para hunter masih banyak, soalnya pada takut ngambil. Kenapa????? Soalnya dilantai hutannya banyak babi hutannya, sadis dan galak-galak. Diatas? Banyak koyek yang tak kalah galaknya. Semoga sekarang masih banyak dijumpai.
    Waduh senangnya kita punya diversitas anggrek yang besar, dan dapat dijadikan sumber plasma nutfah. Menurut saya masing-masing negara atau benua punya spesifikasi anggreknya sendiri-sendiri. Misal America Latina (Central and Southern) melimpah grup Onci,grup Cattleya, Pleurothallis, Dichaea, Masdevalia, Catasetum, Dracula, Isochillus dll…dll. Asia dengan grup Vanda (Vanda, Aerides, Rhyncostylis, Phalaenopsis dll), Dendrobium, Bulbophyllum, Coelogyne, Gramathophyllum, Platycinis dlll…dll. North America dengan Phragmi, Selenepedium dll. Europe dengan Orchis.
    Semoga negara kita dalam menjaga dan melestarikan species anggrek bisa seperti Costa Rica (Central America), dan itu kita mulai dari kita tentunya.

  8. Saya setuju dengan mas dean. Sempet sih saya nyoba memetakan strategi konservasi yg efektif…tapi justru kepala jadi panas dan pusing 17 keliling. Akhirnya daripada saya tulis strategi konservasi yg rumit (jawa:njelimet) mending saya ekstrak menjadi kesimpulan akhir dlm bentuk beberapa langkah2 kecil yg simpel. Tapi yg saya paparkan diatas itu belum semua kesimpulan lho…sebenernya masih banyak…cuman sasarannya beda2, ada yg untuk pemerintah,universitas,kebun raya,bahkan sampai untuk para pemburu. Nah untuk para kolektor dan hobiis mungkin beberapa point yg dipaparkan diatas tadi cukup representatif. Kalo sudah ngomong masalah “perburuan”…kalo membahasnya setengah2 dan tidak tuntas maka bisa menyebabkan kesalahpahaman yang fatal. Mungkin di artikel berikutnya aja ya.

  9. Paparan bung Rio sangat bagus sebagai langkah upaya konservasi anggrek yg berkelanjutan saya salut. Tapi kalau dibandingkan dengan laju deforestasi/kerusakan hutan yg merajalela seperti kasus2 penebangan liar di Ketapang-Kalbar yg melibatkan oknum2 petinggi Polisi bagaimana coba…???? Siapakah yg akan menyelamatkan anggrek2 yg menempel di kayu2 yg malang itu???? Saya rasa anggrek2 itu nggak akan terselamatkan, yakin deh dia mati sia2.Sebagai perbandingan hutan Indonesia hancur ditebang setiap menitnya adalah seluas 6 kali lapangan sepak bola!!! Nah siapa yg care dengan anggrek2nya??? Makanya kita juga tdk bisa menyalahkan 100% pemburu/hunter/kolektor atas semakin langkanya anggrek2 di alam, karena anggrek itu akan musnah lebih dulu sebelum di”selamatkan”, dilain pihak kita juga appreciate kepada bbrp hunter yg ikut menyumbang ditemukannya jenis2 baru spt Dendrobium sutiknoi, nah kalau nggak ada mereka mungkin akan punah duluan sblm teridentifikasi, begitu pula spt yg dikemukakan mas Dean dg kelanjutan hidup capra yg hidup spesifik di hutan2 jati, kalau nantinya dipanen jatinya terus siapa yg mau selamatkan anggreknya hayo..?? Jadi menurut saya memang mengambil dari alam langsung ibaratnya seperti dua sisi koin, bisa berdampak buruk dan baik. Tapi dibalik sisi buruknya yg cenderung eksploitatif (mungkin tidak seberapa kalau dibandingkan dg hutan2 yg ditebang besar2an secara ilegal) masih tersimpan sisi baiknya walaupun cuma sedikit misalnya penemuan sutiknoi tadi. Bisa diibaratkan para hunter cuma “mengais-ngais” sisa2 para2 penebang2 kayu liar!!! Dan kalau dibandingkan, para hunter anggrek jaauuuhhhh sekali dengan ilegal logging!! Marilah kita berpikir jernih dan realistis saja…
    Semoga bermanfaat dan sebagai refleksi.

  10. Mantap sekali Mas Adi. Syukron jazila.
    Bukannya saya membandingkan dengan negara lain lho, bukankah contoh yang baik perlu ditiru. Ngomong-ngomong ya Mas Rio, kalo’ kita mau ngerelokasi sekarang kayaknya dimana gitu. Apalagi setelah terbitnya PP no. 2 Tahun 2008, lantas gimana nasib hutan lindung, buffer area dan national park di luar Jawa yang notabene sebagai salah satu “rumah” bagi anggrek-anggrek species kita. Walaupun dengan dikeluarkannya PP ini dengan dalih rasionalitas ekonomi. Kalau di Jawa banyak cagar alam dan hutan lindung, serta perkembangan hutan produksi yang cukup membaik dan polisi Jagawananya yang galak-galak.
    Sepertinya kontradiksi dengan sebelum PP ini terbit. Pemerintah sudah ada usaha mencari dana kompensasi untuk konservasi lewat mekanisme REDD (alih-alih menguntungkan negara maju) bila hutan tetap dijaga kelestariannya, terutama hutan lindungnya(walaupun bukan hutan lindung saja, pokoknya hutan2 di Indonesia).
    Lha koq sekarang malah PP ini terbit. Takut saya bila tambang-tambang makin lebih banyak masuk di hutan-hutan Kalimantan dan Sumatra. (sekarangpun sudah ratusan tambang yang ada di hutan-hutan itu dengan ijin dari pemerintah). Daya rusak pertambangan ini terhadap ekologi, ekosistem dll, dalam hutan sangat hebat, tak terpulihkan. Soalnya kalo’ di luar Jawa (Sumatra, Kalimantan) tegakan penyusun hutannya beda banget dengan di Jawa (kadang nama botaninya agak aneh di kuping). Begitu terbuka, jadi padang rumput, untuk mengembalikan ke keadaan semula ?………Sulit. Mau nunggu suksesi klimaks?……….Lama. Butuh puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Soalnya bila ditanami dengan spesies yang sama(species lokal), kalo udah terlanjur rusak begitu, tak akan hidup (memang aneh koq species pohon lokal disana itu).Kebanyakan dari family Dipterocarpaceae, yang notabene merupakan species Gap Opportunis, dan dalam perkembangannya harus “nyusu” dari mikhoriza induknya, dimana waktu masih ukuran seedling dan sapling merupakan tumbuhan toleran. Rem. ini bukan teori lho, tapi fakta. Ditanami pohon introduksi?….takutnya dengan perkembangannya yang begitu cepat dapat menginvansi species lokal (examp. Acacia mangium). Bukankah species anggrek alam di hutan2 di Jawa dengan di luar Jawa berbeda-beda. Dan ini juga dipengaruhi juga oleh tegakan penyusun hutan tersebut dan tentunya makroklimatnya.Walaupun ada beberapa species yang sama(bisa dijumpai di Jawa dan luar Jawa, Misalnya Arundina bambusifolia, Acriopsis javanica, Eria, Dend. crumenatum dll.
    Secara diametral PP ini menabrak UU yang lebih tinggi kedudukannya.
    Eh Mas Rio, pas saya di Kaltim, pernah lho nemuin(lihat maksudnya), tempat yang cukup cantik. Tempatnya itu dekat lahan rehab hutan alam bekas kebakaran. Tempat yang terbuka dan bertelaga , banyak sekali Arundina densa dan A. bambusifolia-nya, di tanah yang agak tinggi tumbuh Spathoglottis aurea disela-sela Nepenthes sp. yang berwarna coklat kemerahan . Lantas di batang-batang Shorea leprosula (yang terbakar sebagian) menempel Acriopsis yang pseudobulbnya segede-gede bawang, campur dengan Coelogyne, Eria, Dendro yang daunnya berbulu dll (Soale banyak, saya nggak tahu namanya).

    Sambil tanya sedikit, penulis artikel tentang Gramma di depan sinten nggih? Anggrek jangan disebut pohon, entar kalau dimarah-marah klass Dicotyledonae saya nggak tanggung jawab lho…….hi..hi..hi….Kalo si cane orchid ini dapat gelar terberat dan terbesar, lalu anggrek yang dapat gelar terpanjang atau tertinggi siapa hayo Mas Rio? Jawabannya saya tunggu sama artikelnya Mas Rio tentunya.

  11. Halo mas Adi dan mas Dean.
    Selalu…dan selalu optimis! itu yang saya pegang trus, meski mau hancur lebur kaya apa, ini juga negara kita. Seperti pepatah tokoh idola saya “Kumbakarna”, baik-buruk ini tetap tanah air leluhur yang mana harus dibela hingga tetes darah penghabisan. Saya tidak pernah menyalahkan ataupun membenarkan pemburu-pemburu anggrek. Kenapa?? karena mereka sangat beragam motivasinya begitu juga impact nya. Seperti yg anda bilang, banyak pula kisah-kisah sukses taksonomis lokal maupun taksonomis dunia yg terbantu oleh para hunter. Namun kisah Phalaenopsis javanica yang nyaris punah di alam karena ulah hunter juga tidak bisa dipungkiri. Si pemburu/hunter pun memiliki daya rusak yang hebat juga karena ada demand alias permintaan dari konsumen termasuk para hobiis dan pedagang. Kalau tidak ada permintaan…paling ambil 2-5 tanaman juga mereka sdh cukup..krn tdk ada motivasi kuat untuk menguras habis. Lagi-lagi..seperti rantai, saling berikatan kuat. Tanpa ada hobiis anggrek, pelestarian eks situ akan tersendat, apalagi di jaman seperti ini dimana banyak anggrek yang lebih “aman” di kebun hobiis ketimbang di hutan yang terancam eksploitasi. Rantai masih berlanjut…pertanyaan berikutnya, sejauh mana keberlanjutan pelestarian eks situ di tangan para hobiis??? hobiis juga manusia yang umurnya terbatas, dan belum tentu pula si pewaris peduli dengan si anggrek. Banyak kisah kebun botani anggrek swadaya yang kejayaannya juga seusia si empunya. Begitu si empunya menginggal, maka nasib kebunnya juga game over. Inilah pentingnya kebun raya sebagai penampung “anggrek yg yatim piatu” ditinggal pergi si empunya. Begitu tanaman berkembang biak di Kebun Raya, maka kewajiban selanjutnya adalah reintroduksi ke habitat asal. Begitu populasi di habitat asal menjadi stabil, maka perburuan akan dimulai….begitu terus…muter…muter..dan muter…tapi cerita ideal kaya gini cuman ada d teori konseptualku aja….karena banyak sekali faktor2 lain yang menjadi tambahan di rantai tersbut. Lagian, selama gak ada action nyata, semua konsep seideal apapun juga mubazir. Lakukan apapun itu meskipun kecil. Masih ada harapan kok untuk merelokasi di hutan2 lindung khususnya di Taman Nasional. Planing…lalu Praktek…baru dievaluasi. Kalo baru planing tiba2 udah dievaluasi terus…kapan prakteknya…ya kan?! Lha mau relokasi aja itu lho…banyak banget syaratnya,malah2 saya pernah kok di debat habis2an sama oknum2 “biologi”. Ini salah itu salah…Kalo mau idealis banget, minta tlong malaikat aja ya yang ngrelokasi..kan beres n perfect ^_^!!. (Maap ya malaikat…anda saya jadikan obyek penderita dlm tulisan ini ^_^). Makanya dulu saya kok cenderung agak “alergi” sama orang2 “biologi” hehehe…skarang udh nggak kok,piss ya. Susah juga ya jadi orang “kaya” terlalu sibuk dengan mengawasi harta kekayaan sampe-sampe gak sempet memanfaatkan “kekayaannya”. Bagaimanapun, tidak ada waktu untuk saling meyalahkan dan memusuhi, paling enak itu saling bergandeng tangan, kaya teletabis gitu deh! pasti sukses.

    Untuk artikel Gramma itu aku yg tulis…Lha definisi pohon itu banyak banget sumbernya je mas. Bambu juga sering disebut sebagai pohon bambu, Bamboo tree je hehehe. Tapi emang sih kurang enak kalo dibilang pohon, sekedar sbg bahasa popular. Anggrek terpanjang atau tertinggi??? oleh satu pseudobulb ato boleh lebih?? oleh monopodial atau sympodial?? kalo monopodial, anggrek Vanilla spp bisa lebih dari 4-6 meter. Sympodial juga bisa sepanjang itu ato malah lebih panjang…misal oleh kerabatnya Bulbophyllum yang tumbuhnya creeping di permukaan pohon.

  12. merdekaaa…
    salam kenal buat maz destario juga maz maz yang lain ‘pengguni’ situs anggrek.

    kok ya baru hari ini di ‘jodoh’ kan ketemu – membaca semua tulisan2 ttg. anggrek, saya kok jadi tertarik pengen ikutan…memang siapa lagi yang akan care terhadap kelestarian alam termasuk anggrek spieses nya, kalo’ bukan kita kita yang merasa bagian dari anak negri, lo kan ternyata juga banyak yang merasa anak negri tapi kok malah ngerogoti negri nya sendiri..waahh buanyaaak lo..ya saya gak mau ikutan yang deperti itu..hehehe takut dosa.
    begitu juga terbit pp apa itu saya sengaja nggak mau baca saking mblenek nya
    tapi ya mau bilang apa lagi…
    achirnya memang kemampuan saya tidak untuk meributkan ‘semua’ itu – ya kalo’ pas masuk hutan dan dijodoh kan ketemu anggrek spesies ya diambil sedikit untuk dikoleksi dirumah, dan betul betul ambil sedikit hanya untuk dilestarikan di rumah, kami bukan pedagang apalagi hunter..hehehee
    begitu terus setiap ada kesempatan masuk hutan dengan harapan semoga pada suatu hari nanti jika negri ini kehabisan anggrek spesies, minimal di halaman rumah saya masih tersisa dan boleh dinikmati siapa saja- la sampai detik ini penebangan hutan tetap masih berlangsung …

    memang jika kita tau kondisi hutan di kalimantan seperti yang ditulis maz dean
    duh miris bener, kebetulan saya juga pernah melihat- jadi ngelus dada memang
    jadi ya mari kita masing masing berbuat semaksimal mungkin dengan cara se mampu kita untuk melestarikan alam kita, minimal di halaman rumah kita.

    salam,
    rudy

  13. Saya baru beberapa bulan punya anggrek
    sebenarnya anggrek botol dibuat sendiri apa dibeli ?
    Kira2 dimana belinya dan berapa harganya

  14. salam untuk semua n salam kenal
    angrek, juga makluk tuhan,
    gmn pun kita harus menyayangi
    untuk menanam g usah repot tapi harus dengan tulus

    aku nyoba nanam bermacam2 jenis dengan cinta walaupun pada awalnya aku terlalu tega tapi akhirnya semua subur dengan cinta

  15. Waduh….. sabarnya “Mas Rio” Kita ini. Maksudnya sich pertanyaan tentang anggrek terpanjang ini cuma becandaan, tapi dijawab dengan serius tenan. Wih…wih…wih…..Mas Rio pingin yang lebih panjaaaaaaaaang lagiiiiiii? Jawabnya : Vanilla planifolia se-PTPN disambung-sambung…he…he. Kalo’ yang tertinggi mungkin Arachnis flos-aeris manjat gedung atau Aranthera Kalsum naik di pergola.(Nyuwun sewu saestu ya Mas Rio).
    Tapi untuk yang sympodial, saya setuju dengan jawaban Mas Rio.Soalnya saya pernah lihat anggrek Bulbophyllum (yang saya tidak tahu nama speciesnya), merayap-rayap di batang Shorea selanica, saya tidak tahu ini anggrek panjangnya berapa meter, soalnya batang itu Shorea penuh rhyzoma yang malang melintang tidak karu-karuan. Sebenarnya rhyzomnya kecil dan jarak antar pseudobulbnya….. jauuuuh-jauuuh.
    Kira-kira nama speciesnya apa ya Mas Rio. (Waktu itu saya mengira-ngira panjangnya lebih dari 10 m (Kalo’ di hitung/diukur dari pangkal hingga ujung). Sebelumnya saya mengira anggrek yang tertinggi dan aneh adalah Galeola javanica, apa betul ya Mas Rio?
    By the way, Bulbophyllum kita itu banyak ya Mas Rio, sampai pusing saya. Kayaknya dihutan-hutan Kalimantan dan Sumatera dirajai oleh species ini. (Bener nggak sich Mas?). Mungkin yang dari Papua lebih peculiar lagi. Mungkin kalo’ di America Latina bisa disejajarkan dengan Lepanthes.
    Mas Rio minta obat sakit kepala nggih, soalnya saya dibuat pusing oleh International Book of Orchid, Orchids Book, http://WWW.orchidspecies.com etc…etc..etc…

  16. Luar biasa, saya yang masih pemula jadi mendapat pencerahan dan keberanian untuk terus belajar mencintai anggrek. Saya copy tipsnya boleh ya, saya posting dalam blog saya

  17. Dijual seedling phal javanica @50ribu, persediaan terbatas, bila berminat hubungi Indra-Bandung 081320405436. thanx

  18. semangat!!!!!!!!!!
    spesies anggrek di indonesia bejibun loh!!!!!!!!
    mo nanya selain media vw n pisang buat kultur anggrek apa lagi ya? hormonnya apa dg konsntrasi brp ya?????? jawab ya

  19. Salam anggrek,

    Salut buat rekan-rekan semua yang begitu besar perhatiannya pada kelestarian anggrek negeri ini. saat ini yang saya rasakan bukan hal yang mudah bila kita ingin melakukan pelestarian anggrek. begitu komplek dan rumit hal-hal yang berhubungan dengan anggrek. Bila kita telah merasa benar dengan apa yang kita lakukan, tidak sepenuhnya juga kita bisa benar, bahkan dimata orang2 yang punya tanggungjawab untuk melakukan pelestarian anggrek. Namun saat ini juga saya katakan, bukan lagi masa untuk memperdebatkan benar atau salah. Setidaknya kita telah mau turut mendukung hal-hal yang menjaga kelestarian hidup anggrek tersebut, bahkan hal terkecil sekalipun. Saya sangat setuju dengan pemikiran bung Rio, sepanjang hal yang saya ketahui tentang beliau, begitu besar perhatiannya dengan hal hidup tanaman ini (anggrek). Namun bukan berarti saya hanya menghargai bung Rio semata, untuk semua rekan-rekan lainnya saya angkat topi dan acung jempol buat perhatian/pemikiran rekan-rekan demi kelangsungan anggrek negeri kita.

    Salam

    Ferry Siregar

Tinggalkan Balasan